Pernahkah liat anak SMP membeli jajanan ke penjual siomay? Pasti pernah dunkz.. Anak itu biasanya bilang, “Lek, tuku siomay Lek.. (Paman, Beli siomay Paman..)” Kemudian si penjual siomay berkata, “Pira Boss? (Berapa Boss?)”
“Lek” telah mengalami perluasan makna, yang dulu artinya adalah adik dari orang tua penutur, namun sekarang penjual jajanan keliling pun bisa dipanggil “Lek”. Hal ini membuktikan bahwa salah satu sifat bahasa adalah seiring berjalannya waktu, sesuai perkembangan jaman.
Mengingat kata adalah doa, semoga doa-doa para Lek ini dikabulkan. Semoga anak-anak yang beli siomay dan jajanan lainnya akan menjadi boss yang sesungguhnya.
Tags: bahasa
Tulisan yang Berhubungan
Bagikan
Dalam kategori Bahasa dan Sastra
Tanggapan 4

Hah?? tidaaak.. berarti kalo cowo dipanggil “bu”, soon si cowo itu jadi ibu-ibu beneran lagi?? :duduaku: :duduaku:
###
ya ndak se ekstreem itu.. gimana ya?? bingung saya.. :puyenk: ya makanya kita harus berhari-hati dalam berucap.. saya juga sering dipanggil bu lho sama temen deket saya.. dasar aneh.. bu.. :ahahaha:
Balas
Amiin, Bos. Insya Allah..
Balas
Bahasa memang penuh dinamika. Dalam bahasa ibu saya: bahasa banjar, byk kosakata yg mulai menghilang. Tergeser perlahan oleh kosakata dari bahasa indonesia. Btw, apa bahasa jawa juga mengalami hal yg sama?
Balas
“Lik”, nulisnya, Mas. Hehehe…
###
Makasih mas atas pembenarannya.. Tapi memang saya tulis “lek” untuk efek pemantapan gitu.. Seperti Bibit Waluyo dengan slogannya “Bali Ndeso Bangun Deso” memang sengaja “deso” ditulis pakai o bukan pakai a.
Balas